depo qris slot qris
lifestyle

Glaukoma Tanpa Gejala: Kenali 6 Faktor Risiko yang Harus Diwaspadai untuk Kesehatan Mata

Penyakit mata seringkali berkembang secara bertahap dan tanpa disadari, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan gangguan pada penglihatan yang serius. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah glaukoma, sebuah penyakit pada saraf mata yang dapat berujung pada kebutaan permanen.

Masyarakat masih memiliki kesadaran yang rendah mengenai glaukoma, meskipun penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di seluruh dunia. Mari kita simak informasi lebih lanjut tentang kondisi ini.

Glaukoma merupakan penyakit saraf mata yang bersifat progresif, yang merusak saraf optik secara perlahan. Kerusakan ini sering terkait dengan peningkatan tekanan di dalam bola mata, yang dapat terjadi tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.

Dalam kondisi normal, tekanan di dalam bola mata berkisar antara 10 hingga 21 mmHg. Namun, ketika tekanan tersebut meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap. Hal ini dapat menyebabkan penyempitan lapang pandang, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kebutaan permanen.

Secara global, glaukoma menempati urutan kedua sebagai penyebab kebutaan tertinggi setelah katarak. Di Indonesia, prevalensi glaukoma diperkirakan mencapai sekitar 0,46 persen, atau sekitar 4 hingga 5 orang dari setiap 1.000 penduduk, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2023.

Di negara-negara berkembang, sekitar 80 hingga 90 persen kasus glaukoma tidak terdiagnosis karena penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. “Glaukoma sering disebut sebagai pencuri penglihatan yang diam-diam, karena kerusakan pada saraf optik terjadi secara bertahap tanpa gejala yang jelas. Banyak pasien baru mencari pengobatan ketika lapang pandangnya sudah menyempit,” ujar Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), seorang dokter mata subspesialis glaukoma di JEC Group, dalam acara diskusi Pekan Glaukoma Sedunia 2026 di Jakarta baru-baru ini.

Menurut Dr. Zeiras, memahami faktor risiko terkait glaukoma adalah langkah penting agar masyarakat lebih waspada terhadap penyakit ini.

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami glaukoma:

1. Riwayat keluarga glaukoma

Faktor genetik memainkan peran penting dalam perkembangan glaukoma. Seseorang dengan anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit ini memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama.

2. Usia di atas 40 tahun

Risiko terkena glaukoma cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, pemeriksaan mata secara rutin sangat dianjurkan, terutama setelah memasuki usia 40 tahun.

3. Penyakit lainnya

Kondisi kesehatan seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami glaukoma. Oleh karena itu, penting untuk mengelola kondisi kesehatan tersebut dengan baik.

4. Penggunaan obat-obatan tertentu

Beberapa obat, terutama yang mengandung kortikosteroid, dapat meningkatkan tekanan di dalam bola mata. Jika Anda menggunakan obat-obatan tersebut, sebaiknya konsultasikan dengan dokter mata secara rutin.

5. Ras dan etnis

Riset menunjukkan bahwa individu dari kelompok etnis tertentu, seperti orang Afrika atau orang Asia, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan glaukoma. Oleh karena itu, orang dari kelompok ini harus lebih waspada dan melakukan pemeriksaan mata secara berkala.

Menyadari faktor-faktor risiko ini sangat penting untuk pengendalian glaukoma. Dengan meningkatkan kesadaran dan melakukan pemeriksaan secara rutin, kita dapat mendeteksi penyakit ini lebih awal dan mencegah kerusakan yang lebih parah pada penglihatan.

Jadi, jika Anda memiliki salah satu dari faktor risiko di atas, jangan ragu untuk mengunjungi dokter mata. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci untuk menjaga kesehatan mata Anda.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang glaukoma tanpa gejala, kita dapat mengambil langkah proaktif untuk melindungi penglihatan kita dan mencegah kebutaan yang tidak perlu.

Related Articles

Back to top button