Site icon Tragen

Iran Hadapi AS-Israel, Menkeu Purbaya Pastikan Suplai BBM Tetap Aman Meski Harga Minyak Naik

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kesiapan pemerintah dalam menghadapi potensi dampak dari konflik yang melibatkan Iran terhadap pasokan dan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

Purbaya menekankan bahwa stok energi nasional dan skenario fiskal telah dirumuskan secara matang untuk menjaga agar kondisi ekonomi tetap stabil. Ia menambahkan, gangguan yang signifikan baru akan terjadi jika tidak ada suplai BBM sama sekali dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Apabila selama 20 hari tidak ada suplai sama sekali, situasi bisa menjadi sangat sulit. Namun, biasanya hal tersebut tidak akan terjadi. Kita yakin bisa mendapatkan suplai, meskipun mungkin dengan harga yang sedikit lebih tinggi,” jelas Purbaya kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada hari Selasa.

Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi terkait harga minyak mentah untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.

Menurutnya, jika harga minyak global mencapai 92 dolar AS per barel, anggaran negara masih akan mampu memenuhi kebutuhan pembelian.

“Harga minyak saat ini mendekati 80 dolar AS per barel. Saya telah melakukan perhitungan, dan jika harga mencapai 92 dolar AS, kita masih dapat mengendalikan anggaran, sehingga tidak ada masalah yang berarti,” ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pihaknya sedang menganalisis dampak lonjakan harga minyak global terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yang dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

“Dalam APBN, harga ICP (Indonesian Crude Price) ditetapkan pada 70 dolar AS per barel. Saat ini, harga minyak telah meningkat menjadi 78–80 dolar AS per barel,” kata Bahlil dalam konferensi pers mengenai perkembangan terkini di Timur Tengah dan implikasinya terhadap sektor ESDM di Jakarta, pada hari Selasa.

Dengan ini, harga minyak dunia saat ini sudah melampaui proyeksi makro yang tertuang dalam APBN 2026.

Sebagai negara pengimpor minyak dengan kebutuhan sekitar 1 juta barel per hari, kenaikan harga minyak global tentu akan memberikan beban tambahan pada APBN, terutama dalam hal subsidi energi yang harus ditanggung oleh pemerintah.

Meski begitu, di sisi lain, Indonesia juga akan meraih pendapatan tambahan dari kenaikan harga minyak global tersebut.

Perhitungan terkait dampak ini, lanjut Bahlil, akan dilakukan dengan sangat hati-hati karena berkaitan dengan subsidi energi domestik.

Exit mobile version