Gaya Hidup Berkelanjutan Meningkat, Negara-Negara Asia Mengurangi Emisi Secara Serius

Jakarta – Masalah perubahan iklim kini telah menjadi lebih dari sekadar perbincangan di forum internasional. Berbagai negara di Asia mulai menunjukkan langkah konkret melalui pengembangan pasar karbon serta pelaksanaan proyek-proyek pengurangan emisi yang semakin serius.
Lester Chan, CEO & Chairman The GrowHub Limited, menyatakan bahwa saat ini Asia memasuki fase baru dalam usaha pengurangan emisi karbon. Sebelumnya, diskusi sering kali berputar pada potensi dan kerangka kebijakan, namun kini fokus telah beralih kepada tahap implementasi yang lebih nyata. Mari kita eksplorasi lebih lanjut mengenai hal ini!
“Asia saat ini menyumbang lebih dari setengah emisi karbon global. Kawasan ini juga memiliki beberapa penyerap karbon alami terpenting di dunia, seperti ekosistem mangrove, hutan tropis, dan pegunungan. Pertanyaannya bukan lagi apakah Asia akan membangun pasar karbon global, tetapi seberapa cepat dan kredibel kawasan ini dapat memberikan dampak yang terukur dan dapat diverifikasi,” jelas Lester Chan dalam pernyataannya yang dirilis pada 12 Maret 2026.
Asia Tenggara mulai menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam mengatasi isu emisi karbon.
Beberapa negara di Asia Tenggara kini mulai merancang sistem untuk mengendalikan emisi karbon. Thailand, misalnya, telah mengesahkan rancangan undang-undang terkait perubahan iklim dan bahkan melakukan transfer Internationally Transferred Mitigation Outcomes (ITMO) pertama dengan Jepang.
Sementara itu, Vietnam tengah menguji sistem perdagangan emisi atau Emission Trading System, dan Malaysia sedang mempersiapkan penerapan pajak karbon.
Di Indonesia, perdagangan karbon mulai diatur melalui pembentukan bursa karbon yang dikenal sebagai IDX Carbon. Kebijakan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, yang bertujuan untuk memperkuat sektor keuangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang berfokus pada keberlanjutan.
Inisiatif-inisiatif ini mencerminkan bahwa isu karbon tidak lagi menjadi sekadar agenda lingkungan, tetapi juga mulai mempengaruhi strategi bisnis dan ekonomi secara luas.
Implementasi Paris Agreement, khususnya melalui Pasal 6, mulai memasuki tahap yang lebih konkret. Beberapa negara saat ini tengah menjalankan proyek kolaboratif yang dirancang untuk menghasilkan pengurangan emisi sekaligus kredit karbon yang dapat diperdagangkan.
Sebagai contoh, Bhutan dan Singapura baru-baru ini meluncurkan berbagai proyek seperti penggunaan kompor bersih, pengembangan biogas, dan program mitigasi terpadu. Proyek-proyek ini bukan hanya sekedar konsep, tetapi telah dirancang dengan jalur pengurangan emisi yang jelas serta mekanisme untuk penerbitan kredit karbon yang terukur.




